Perkembangan Batik Zaman Kerajaan Islam

Batik bukan lah sekadar kain yang bermotif indah dan beraneka warna. Namun, batik itu sendiri dilihat dari proses dan teknik pembuatannya. Batik sebagai budaya adalah proses memberi pola pada kain, lalu pola itu dilapisi oleh malam (sejenis lilin yang melapisi kain) dari sebuah canting (alat tradisional khas Indonesia berbahan tembaga dan bergagang bambu atau kayu untuk menempelkan malam pada kain). Kain yang dilapisi malam dicelupkan pada bejana yang sudah diisi pewarna. Proses itu dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan sebuah kain yang diinginkan.

Batik diperkirakan telah berkembang pada zaman Majapahit. Penggunaan batik sangat terbatas hanya dilingkungan keraton dan acara-acara kerajaan. Ketika Majapahit runtuh dan hegemoninya digantikan oleh Kesultanan-kesultanan Islam, batik pun tetap dekat dalam kehidupan keraton. Beberapa kesultanan di Pulau Jawa yang mengembangkan batik adalah Keraton Mataram Islam dan Keraton Cirebon.

Penggunaan batik pada masa Kesultanan Islam digunakan dalam konteks ritual, misalnya upacara pemberian nama pada anak, sunatan, perkawinan dan upacara-upacara kerajaan. Berbagai jenis ragam hias batik tercipta karena spesifikasi penggunaan kain batik pada setiap ritual. Bahkan ada ragam hias batik yang hanya boleh dipakai oleh lingkungan Sultan, seperti ragam hias Parang Rusak. Ketika Mataram Islam dipecah menjadi dua (Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta) dengan Perjanjian Giyanti pada 1755, ciri-ciri ragam hias batik yang berkembang di Kesultanan Mataram Islam tetap dibawa. Namun ragam hias batik tersebut mempunyai perbedaan seperti diagonal dan warna dasar yang berbeda. Batik pada zaman ini dipakai sebagai kain panjang, kain sarung, ikat kepala, kemben, selendang, dan dodot.


Parang rusak khas Solo (sumber: kesolo.com)


Parang rusak khas Yogyakarta (sumber: hedabatik.com

Dalam lingkungan Keraton Cirebon. Berkembang berbagai ragam hias yang sarat makna dan masih dijumpai masa sekarang. Ragam hias tersebut antara lain ragam hias Kungkungan, Simbar Kendo, Singa Payung, Taman Arum Sunyragi, dan lain-lain.

Proses pembatikan yang dilakukan oleh putri keraton (sumber: iqnasbrilian.wordpress.com)

Proses pembuatan kain batik awalnya hanya melibatkan keluarga kerajaan dan dilakukan secara sederhana. Putri-putri raja menggambar pola dan pembatikan, dan prosesnya dilanjutkan oleh pegawai istana yang biasa disebut abdi dalem. Namun, kebutuhan batik terus meningkat sehingga berkembanglah produksi di luar lingkungan keraton.Penggunaan batik terus meluas ke berbagai kalangan. Namun, beberapa ragam hias masih terlarang untuk digunakan oleh kalangan umum. Misalnya ragam hias parang rusak.

Sampai saat ini perkembangan batik pada zaman kerajaan Islam masih diperlukan penelitian lebih lanjut agar menghasilkan sebuah informasi yang komprehensif. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dengan mentransfer pengetahuan agar pengetahuan tentang batik tetap lestari dan tidak hanya dikenal sebagai kain yang indah belaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s