Keharmonisan Antarumat Beragama Membutuhkan Dialog Budaya (Bag-1)

DSC_3788
Para pembicara dalam Dialog Budaya: “Agama dan Kebhinekaan” (kiri ke kanan: Peter Lesmana, Melkisedek Puimera, Nasaruddin Umar, Romo Agustinus Suyadi, Nadjamuddin Ramly, I Wayan Sudharma, Liem Wira Jaya)

Dialog budaya dengan tema “Agama dan Kebhinekaan” yang digelar pada Jumat, 16 Juni 2017 di Ruang 34 Masjid Istiqlal diharapkan sebagai ruang antarpemuka agama untuk berdialog secara damai. Berbagai informasi yang mengenai agama-agama yang hidup di Indonesia disampaikan langsung dari tokohnya. Hal ini untuk menghindari rasa saling mencurigai satu sama lain dan melihat hubungan lintas agama yang harmonis.

Dalam dialog budaya tersebut dihadiri oleh Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, Romo Antonius Suyadi Pr, Ketua Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan Agung, Melkisedek Puimera, Pendeta GPIB, I Wayan Sudharma, Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal Parisada Hindu, Liem Wira Jaya, Sekretaris Jenderal DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia, Peter Lesmana, Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia.

Dialog budaya yang dimoderatori oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Nadjamuddin Ramly berjalan lancar dan damai. Begitu banyak pesan damai yang terkandung dalam pertemuan ini. Masing-masing pembicara menyampaikan pesan damai melalui sudut pandang agama yang dianut.

Dari umat Islam, Bapak Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah tokoh yang sangat menghormati kemanusian. Berbagai diantaranya yang beliau lakukan adalah membantu membuat rumah ibadah umat agama lain, merawat tawanan perang, mengizinkan berdirinya rumah ibadah lain di sebelah masjid. Islam adalah agama yang sangat menghormati umat beragama lain. Di Al Quran tertulis “muliakanlah anak cucu Adam.” Umat beragama lainnya wajib dihormati, tidak hanya umat muslim. Beliau menyayangkan pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan “mengaduk-ngaduk” umat dengan mengatasnamakan islam dalam mendapatkan kepentingannya.

Romo Antonius Suyadi Pr. menyampaikan bahwa lembaganya mengarahkan para umatnya untuk menuliskan ucapan selamat bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri dan ditempel di depan rumah. Beliau juga hidup dalam lingkungan yang penuh toleransi dalam keluarganya. Dibesarkan oleh keluarga muslim, Romo Suyadi memilih menjadi Katolik pada usia yang cukup muda. Orang tua beliau merestui. Bahkan ketika menjadi pastor, orang tuanya hadir di Gereja Katedral. Saat lebaranpun, beliau pulang kampung untuk meminta restu kedua orangtuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s