Keharmonisan Antarumat Beragama Membutuhkan Dialog Budaya (Bag-2)

DSC_3791
Para pembicara dalam Dialog Budaya: Agama dan Kebhinekaan.

Bapak Melkisedek Puimera menyampaikan hubungan dekatnya dengan berbagai pemeluk agama lain. Sangat toleran dan baik. Masing-masing juga mengkaji kitab suci yang lainnya. Tidak ada curiga-menyurigai seperti belakangan yang terjadi. Beliau mengajak seluruh umat beragama di Indonesia untuk hidup berdampingan dan harmonis karena itulah yang dicita-citakan oleh seluruh umat manusia. Beliau mengibaratkan keharmonian ini seperti jeruk “Walaupun di dalam jeruk banyak bulir-bulirnya, namun sama manisnya.”

Menurut Bapak I Wayan Sudharma, pergesekan yang terjadi belakangan ini karena hati mereka tidak dekat. “Tidak perlu berteriak-teriak jika hati dekat, seperti orang yang berpacaran walaupun berbisik-bisik masih terdengar karena hatinya dekat.” Beliau menyampaikan dalam kitab Weda  tidak dibeda-bedakan orang yang hidup di bumi. Semuanya menghirup oksigen yang sama dan juga diresapi oleh zat ilahi yang sama. Jangan sampai keberagaman yang hidup di Indonesia menjadi terpecah belah.

Agama Buddha mengenal keberagaman. Manusia berbeda-beda menurut karmanya. Beliau sedikit menyampaikan sejarah agama Buddha. Bahwa Pangeran Sidharta melihat penderitaan manusia. Akhirnya beliau keluar dari istana dan mencari tahu apa yang menimbulkan penderitaan manusia. Setelah berusaha, dia menemukan apa yang menyebabkan manusia menderita, yaitu nafsu keinginan.

Banyak orang yang bertanya-bertanya mengenai agama Konghucu. Dalam kesempatan ini Bapak Peter Lesmana menyampaikan bahwa di dalam agama Konghucu percaya akan kebhinekaan. Simbol Tian dalam agama Konghucu menggambarkan kebhinekaan. Di satu lingkaran ada irisan antara hitam dan putih dan di dalam warna tersebut ada warna yang berbeda. Akar agama Konghucu adalah agama yang membuat manusia menjadi orang yang terpelajar secara kehidupan.

Banyaknya pergesekan antaragama yang terjadi di Indonesia mungkin karena jarang sekali ada komunikasi antara mereka. Sedikitnya komunikasi dapat menimbulkan rasa saling curiga mencurigai dan prasangka buruk. Dengan dialog seperti ini, timbulah sebuah pengetahuan akan ajaran agama-agama di Indonesia. Mengetahui ajaran agama lain dengan lebih dekat jauh lebih baik ketimbang berprasangka buruk. Dari dialog ini, kita bisa merasakan bahwa tidak ada satupun ajaran agama yang mempunyai niat buruk kepada agama lain.

Semua ajaran agama mengingkan adanya perdamaian, keamanan, dan keharmonisasian dalam kehidupan bagi seluruh umat manusia. Keberagaman yang ada di dunia ini adalah sebuah keniscayaan. Bagi agama Islam, disebutkan dalam Al Quran Surat Al Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbeda adalah untuk saling mengenal.

wp-1497927826035.
Para pembicara Dialog Budaya bergandengan tangan, tanda keinginan kuat menguatkan persatuan dalam kebhinekaan di Indonesia.

Mari kita bangun keharmonisan dan kebersamaan di tengah kebhinekaan Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s